"Sesungguhnya termasuk kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang kerosakan jiwaku." [Wahid bin Wurd]
Kita banyak tahu tentang kebaikan, bahkan kita sering ingin melakukannya. Tapi sejujurnya, kita masih sering gagal untuk menunaikannya. Seperti juga keburukan, kita tahu bahawa keburukan tidak boleh dilakukan. Tetapi, kita selalu terdorong untuk melakukannya. Kita sering gagal mengawal diri sendiri.
Gagal mengatasi kecenderungan yang berulangkali membawa kita pada suasana yang sebenarnya kita sendiri tidak ingin ada di dalamnya. Entahlah, seolah-olah ada kekuatan lain yang lebih kuat dalam membentuk dan mengendalikan diri kita. Itulah inti masalah yang kita hadapi, kita kerap gagal dan tak mampu mengendalikan diri kita sendiri. Tepat seperti ungkapan orang-orang bijak "Musuh kita adalah diri kita sendiri".
Sesungguhnya kemampuan mengendalikan diri menurut Rasulullah s.a.w. adalah parameter seseorang untuk layak disebut kuat atau lemah. "Orang yang kuat itu bukan yang menang dalam pertarungan, tetapi orang yang mampu mengendalikan amarahnya."
Amru bin Ahtam, seorang ulama' dikalangan Tabi’in, menyebut orang yang mampu menundukkan nafsunya dengan istilah asyja’u rijal atau orang yang paling berani. Ia pernah ditanya oleh Mu’awiyah, "Siapa orang yang paling berani?" Amru bin Atham menjawab "Orang yang mampu menolak kebodohan dirinya dengan sikap berlapang dada. Dialah orang yang paling berani."
Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan kepemimpinan dalam diri kita sendiri? Jawapannya sama dengan apa yang harus kita lakukan ketika berhadapan dengan musuh. Tak ada jalan lain, kecuali diperangi. Para ulama' kerap mengistilahkan perang batin ini dengan mujahadah. Perang batin jelas berbeza dengan perang zahir, musuh di perang zahir dapat dilihat dan tipu dayanya dapat dikenali melalui akal dan penglihatan kita. Tapi musuh batin tidak sama halnya.
Kadang-kadang perang melawan batin jauh lebih hebat berbanding perang zahir. Alasannya ialah medan perangnya ada di dalam diri kita sendiri. Serangan, tikaman dan ledakannya terjadi di dalam diri kita, setiap waktu dan bertubi-tubi. Walaupun tidak terdengar dentumannya, tapi akibatnya sangat berbahaya. Kerana itulah ramai orang yang mampu mengalahkan musuh zahir, namun gagal mengalahkan musuh batinnya sendiri. Ia tak mampu mengalahkan hawa nafsunya sendiri.
Seorang pemuda pernah bertanya kepada Ustaz Fathi Yakan, "Saya gagal, putus asa, tidak sempurna dalam berbagai amal kerana saya selalu dihantui perasaan riak." Kata pemuda itu. Ia bahkan berniat akan mengurangi amal ibadahnya supaya tidak terjerumus dalam riak. Ustaz Fathi Yakan menjawab, "Siapa manusia yang tidak pernah terganggu riak? Kita manusia, semua mengalaminya." Beliau lantas mengutip sebuah hadis Rasulullah s.a.w., "Andai manusia tidak melakukan kesalahan nescaya Allah s.w.t. akan datangkan satu kaum yang melakukan kesalahan kemudian mereka bertaubat dan Allah s.w.t. menerima taubat mereka." [HR Muslim dan Ahmad]
Sudah tentu hadis itu bukan untuk meremehkan dosa termasuk riak. Tapi hadis itu lebih mengarahkan pada dorongan untuk melakukan pembaikan dan taubat. Fathi Yakan mengatakan, "Ibadah dan amalan kebaikan itu sendiri merupakan bahagian dari terapi yang diatas dosa yang engkau lakukan."
Perhatikanlah bagaimana jawapan Rasulullah s.a.w. tatkala ada seorang pemuda yang bertanya padanya, "Ya Rasulullah, bagaimana jika ada seorang yang melakukan solat malam, tapi waktu siang dia mencuri?" Apa jawapan Rasulullah s.a.w.? ""Amaluhu yanhahu ‘amma taquulu," amal ibadahnya akan menghalanginya dari mencuri."
Jawapan ini sama seperti yang pernah dikatakan oleh seorang Salafussoleh ketika seorang lelaki bertanya kepadanya, "Mana yang lebih baik? Apakah saya yang melakukan sujud tilawah namun orang-orang melihat saya dan saya khuatir riak, atau saya tidak melakukan sujud sehingga saya terhindar dari riya?" Orang soleh itu menjawab, "Lakukan sujud tilawah dan lawan bisikan syaitan dalam dirimu."
Apakah inti jawapan para ulama' terhadap gangguan hawa nafsu itu? Lawan. Jangan pernah menyerah terhadap dorongan negatif hawa nafsu. Ini adalah perang yang tak pernah selesai dan tak boleh berhenti. Berhenti atau mengurangi amal ibadah, bererti keluar dari lingkup pemeliharaan dan perlindungan Allah s.a.w. Seseorang akan cenderung jatuh lebih jauh dari apa yang dikeluhkan akibat melakukan kesalahan. Ia telah memilih jalan ke arah kesesatan, bukan jalan hidayah. Semoga Allah s.a.w. menlindungi kita semua dari pilihan seperti itu.
Marilah kita memikirkan sebab-sebab yang menjadikan kita terjerumus pada dosa. Ini penting kerana menurut Hasan Al Basri, "Seorang hamba selalu berada dalam kebaikan selama ia mengetahui apa yang merosakkan amal-amalnya." Ini adalah langkah pertama untuk mengubati semua masalah, yakni dengan mengetahui sebabnya. Bahkan ini juga merupakan satu bahagian dari terapi kesalahan. Itulah yang diutarakan oleh Wahid bin Wurd, ""Inna min shalahi nafsi, ilmiibifasaadihaa" Sesungguhnya termasuk kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang kerosakan jiwaku."
Betapa indah dan bijaknya nasihat sahabat Allah s.a.w., Ali bin Abi Talib, "Hati kadang-kadang memiliki kecenderungan menerima dan kadang-kadang menolak. Bila ia dalam keadaan menerima, ajaklah ia untuk melakukan ibadah yang sunnah. Tapi jika ia dalam keadaan menolak, ajak dia untuk melakukan yang harus saja. Sampai keadaan menolak itu hilang, ajaklah ia kembali untuk melakukan yang sunnah."
Sahabat-sahabat sekalian, seruan perang itu telah lama bertalu disini, di dalam jiwa kita ini. Buanglah rasa lemah untuk terus berubah menuju kebaikan.


0 comments
Post a Comment